Sesepuh menentukan penari berdasarkan wangsit dan garis keturunan tertentu, dipastikan ia layak menjadi perantara leluhur.
Doa, sesajen, dan kemenyan dipanjatkan. Air bunga dan mantra digunakan untuk menyucikan penari, panggung, dan area sekitar.
Penari mengenakan omprok bunga, kain tradisional, dan selendang sebagai simbol kesiapan memasuki ruang sakral.
Gamelan ditabuh sebagai pemanggil leluhur. Penari kemudian masuk kondisi diarsuk dan mulai menari mengikuti irama tanpa kesadaran sendiri.
Selendang dilempar ke penonton yang terpilih. Mengajak mereka ikut menari sejenak sebagai tanda koneksi antara manusia, tradisi, dan leluhur.
Bunga, makanan, serta air diletakkan sebagai persembahan, lalu acara ditutup dengan doa untuk keselamatan dan kesejahteraan desa.